Kalau boleh berkisah dengan jujur,
Sebetulnya saya merasa seru meskipun capek juga menghadiri undangan interview kesana kemari. Terlebih saat artikel ini ditulis, saya sebagai seorang sarjana desain komunikasi visual yang bukan lagi pemain baru di industri ini. Maklum saya lulus tahun 2006 dari SMK desain.
Sambil nyiapin skripsi ini, saya nyoba untuk kirimkan lamaran kerja yang sangat-sangat-sangat banyak sekali ke berbagai perusahaan. Jumlahnya mungkin sudah hampir dua ratusan lamaran! Hehehe . . . maklum namanya juga aji mumpung, mumpung nyiapin skripsweet, mumpung banyak jam kosong, saya coba-coba deh melamar kerja kali aja ada rejeki mampir.
Alhamdulillaah, hingga hari ini sekitar 95% dari lamaran saya itu ditolak...hehehe. Sementara 5% sisanya lamaran saya diterima untuk ikut interview. Catat ya hanya interview.
Tawaran interview itu, membentang dari surabaya, jogja, dan jakarta.
Hingga tulisan ini saya ketik, yang sudah saya ikuti baru hanya dari
jogja saja. Beberapa dari jakarta, saya tolak dengan halus.
Pernah ada cerita unik bin seru. Satu ketika, ban saya bocor saat saya berangkat interview. Saya
kalangkabut bukan main karena waktu udah mepet, ditambah tak ada satupun
penambal ban. Terlebih waktu itu saya di daerah yang masih asing.
Walhasil, saya harus memutar otak. Saya mengemis minta bantuan ke
seorang warga, untuk minta diantarkan ke lokasi. Sementara motor saya
titipkan di rumah beliau. Sungguh situasi yang sangat memalukan sekali.
Tidak akan pernah saya lupakan kejadian itu. Semua demi sebuah interview!
Ada lagi, saya pernah diundang interview oleh cabang perusahaan eropa. Panas-panas dan tersesat-sesat saya pacu motor datang ke kantornya. Pas nyampe sana, ternyata kantornya cuma sebuah rumah kontrakan yang sederhana banget! Feeling saya udah nggak enak duluan sebelum masuk. Tes tulisnya ~naudzubillaah~ bikin tangan nyeri banget dan tawaran gajinya dirahasiakan. Saya diminta sebut nominal gaji minimal. Saya tahu ini siasat agar saya bisa disortir dengan pelamar lain. Dia gengsi kalau nyebut nominal, karena ingin bayar semurah mungkin.
Ketika berulangkali menjalani interview di jogja inilah, saya mendapati pencerahan yang sungguh menakjubkan. Dimana ditengah teriknya siang, saya harus berangkat menjalani beragam tes, tanpa tahu akan dibayar layak atau tidak.
Ibarat makanan, para pelamar ini di coba atau dicicipi dulu, baru ditawar "mau enggak kau kubayar segini?". "Kalau enggak mau yaudah kau pulang sana, ni kukembalikn sisa buah mu yang udah kugigit!". Syukur-syukur kalau kita langsung tau diterima atau enggak saat itu juga, lah kalau masih disuruh nunggu (baca: di PHP in) selama dua pekan!?
Terasa kampret banget bukan?? Tidak profesional? Yah begitulah, tapi ada juga kok perusahaan yang oke dan bonafide, banyak malah.
~
Belakangan agaknya saya akhirnya menyadari. Ini sebenarnya soal teori ekonomi dasar: "suply & demand". Suplai tenaga kerja yang sangat melimpah, membuat perusahaan merasa bebas melakukan apa saja guna mencari tenaga yang paling menguntungkan mereka. Yang tentu: pintar dan MURAH.
Perusahaan menyadari, ada banyak tenaga kerja yang kelaparan, mengais-ngais situs lowongan agar bisa segera dipekerjakan. Pun di sisi lain para calon pekerja pun begitu desperate ingin segera bekerja, maka mereka menerima begitu saja perlakuan para perekrut yang cenderung mengarah ke bullying itu.
Saya setuju dengan teori ekonomi itu. Kaidah supply & demand itu adalah sebuah keniscayaan. Selama ada aktifitas tukar menukar kebutuhan, maka teori itu pasti berlaku dengan sendirinya.
Akan tetapi yang saya herankan. Apakah perusahaan-perusahaan yang telah berdiri kokoh itu telah kehilangan rasa kemanusiaannya?? Apa mereka yang sudah berada di posisi yang lebih mapan itu tak punya rasa belas kasihan untuk para calon-calon pekerja yang nyaris putus harapan itu...
Bukankah tak ada ruginya bila seorang perekrut, memberitahukan lebih dulu tawaran gajinya. Sebelum membully seorang pelamar dengan menyuruhnya datang dari jauh untuk sekedar mengerjakan tes ini dan itu. Sementara mereka belum tentu sepakat dengan gajinya.
Semua pengalaman pahit ini membuat saya yakin bahwa wirausaha memang pilihan terbaik. Dan jika sukses kelak, saya berjanji tak akan membully para calon pekerja seperti yang saya alami ini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar