Kulihat banyak orang, membanting tulang siang malam, terkadang sedikit curang, terkadang demam karena kelelahan. Tertatih-tatih dalam rasa capek yang tak tertahan.
Pada akhirnya, semua hanyalah tentang pencarian kebahagiaan. Sayangnya, seringkali kita terlalu sibuk dalam pencarian, hingga kita lupa bahwa kebahagiaan telah datang. Ia sudah lama menunggu di depan mata kita, hanya saja kita lupa untuk mempersilahkannya masuk ke dalam hati.
Pandanglah sejenak wajah orang tuamu yang semakin keriput itu, jemarinya yang kian kusut, aduhai...bukankah disana itu adalah jejak kebahagiaan kita sedari kecil. Tangan itulah yang dulu mengajak kita bermain, membelikan permen, mengajari menulis. Betapa indahnya garis-garis keriput itu.
Tataplah sejenak mata kekasih kita itu, mungkin dia tak setampan atau secantik artis sinetron. Namun dialah tempat kita berbagi cerita dan cinta. Orang yang begitu mengerti kita. Berdua melewari episode demi episode kisa susah dan sukacita. Terkadang saling marah namun juga saling haru. Apalah artinya semua yang kita miliki jika tak ada dia tempat kita berbagi.
Belum lagi tawa si kecil, matanya yang berbinar itu, tangisnya yang mengiba...semua tentangnya membuat orang tua merasa begitu berarti di dunia ini.
Kebahagiaan sesungguhnya telah hadir, hanya saja kita sering tak mampu memahaminya. Ibarat udara yang tak kasat mata, namun kita merengkuhnya setiap waktu.
Sabtu, 28 Juni 2014
Selasa, 17 Juni 2014
5 Pelajaran Presentasi dari Craig Federighi
Apple memang menjadi sebuah perusahaan
yang terus menampakkan perkembangan baik dari teknologi dan bagaimana
cara mereka menyampaikan ide dan opini kepada orang banyak. Salah satu
yang sering kita tahu adalah bagaimana mendiang Steve Jobs melakukan
sebuah persentasi yang sangat rapi dan menarik kepada para kolega atau
karyawannya. Dan ternyata ini menular kepada satu wakil presidennya
yaitu Craig Federighi. Beliau adalah seorang Apple’s senior vice
president of software engineering. Dan kini giliran Craig mencoba
membagikan tips persentasi terbaik yang selalu ia lakukan dan ini
terbukti membawa pengaruh serta dampak yang besar untuk materi yang
disampaikan ke public.
1. Meningkatkan energi yang dimiliki
Federighi tidak hanya berjalan diatas
panggung saat ia memulai persentasinya. Dia bahkan tak segan melakukan
beberapa gerakan yang membuatnya lebih bersemangat dalam menjelaskan
materinya. Dia tidak segan untuk memberikan senyuman dan tertawa bersama
dengan audiens. Bisa dikatakan tingkat energi yang dia miliki jauh
lebih tinggi dari rata – rata presenter sebuah acara.
Kebanyakan orang memberikan dan
menyampaikan materi persentasi dengan nada suara yang sama, gerakan yang
relatif sama dan bahkan tidak jarang suara mereka akan terdengar
melemah saat sudah mencapai puncak dari persentasi. Namun tidak dengan
Federighi, ia selalu berusaha memberikan penampilan terbaiknya untuk
bisa menyampaikan dan memuaskan para audiensnya. Dan ini bisa kita
jadikan tips saat mulai merasa melemah di tengah persentasi.
2. Membuat orang tertawa
Kebanyakan persentasi bisnis identik
dengan suasanya yang kering, standart dan tidak jarang membuat audiens
merasa bosan mendengarkan materi. Federighi menjadikan ini sebagai
materi pembelajaran baginya. Sehingga ia terus berupaya untuk memberikan
yang terbaik. Ia bahkan tidak sungkan untuk langsung menyisipkan humor
pada awal permulaan ia memulai persentasinya. Sekalipun materi yang ia
sampaikan cukup serius dan bahkan tidak terfikir untuk menyisipkan
guyonan, tapi Federighi melakukannya.
Ia tidak malu untuk sedikit berbagi humor atau bercandaan kepada audiensnya.
3. Jaga bahasa tubuh
Sebagai seorang pemateri ia tahu betul
bahwa bahasa tubuh sangat mempengaruhi tersampainya suatu materi kepada
para audiens. Dia selalu berusaha untuk tidak membungkuk sekalipun
sedang diliputi rasa lelah. Senyum yang ia berikan juga selalu konstan
atau bahkan selalu diselipi dengan tawaan ringan. Karena baginya bahasa
tubuh lebih banyak berbicara sebelum kita mulai mengucapkan satu dua
patah kata.
4. Slide visual dengan desain sederhana
Untuk sebuah persentasi yang menarik,
Federighi tidak ingin menampilkan banyak kata dalam persentasinya. Ia
tahu bahwa kata yang tidak sedikit juga tidak sedikit membuat audiens
merasa bosan. Itu sebabnya Federighi lebih mengutamakan penggunaan foto,
gambar, animasi dan suara pada setiap slide persentasinya. Baginya
informasi lebih mudah dijelaskan dan diterima jika disajikan dalam
sebuah gambar, bukan teks.
Ini bukan berarti Apple melarang
penggunaan banyak kata, tapi lebih ke dominasi gambar yang lebih banyak
digunakan daripada sekedar teks.
5. Menerapkan aturan sederhana
Federighi tahu bahwa audiens yang
mengikuti suatu persentasi tidak akan ada yang mau bertahan sampai akhir
persentasi selesai. Itu sebabnya ia menerapkan aturan sederhana pada
dirinya sendiri. Saat awal mulai persentasi, ia terlebih dahulu
menampilkan video menarik yang mengundang ketertarikan audiens untuk
bahasan selanjutnya. Setelah video yang berdurasi sekitar 2 menit itu
selesai, ia baru masuk dan menjelaskan materi yang akan ia sampaikan.
Ia selalu menyampaikan persentasi dengan
menarik, cepat dan jelas. Setelah satu materi selesai ia jelaskan, ia
kembali mempertontonkan video yang menghibur audiens. Tujuannya adalah
untuk mempersilahkan audiens istirahat dan kembali segar dengan segala
fikiran mereka. Setelah itu baru ia melanjutkan persentasinya lagi.
Selamat mencoba :)
sumber: tips presentasi
Minggu, 15 Juni 2014
Siasat marketing
Tengah malem ini, kebetulan liat sebuah akun toko baju atau perhiasan.
Ceritanya, ada akun sebuah toko yang berkomentar di sebuah foto selebritis. Kebetulan si artis memang masih muda, tengah naik daun dan dikenal hobi poto selfie. Ia mempersilahkan pada artis tersebut untuk memilih barang apapun dari tokonya,,,apapun yang ia suka,,,gratis! Katanya, pemberian ini atas dasar penghargaan pada talenta dan karya yang telah di hasilkan oleh artis teresebut.
Seandainya ini kebetulan, tidak ada yang spesial di sini. Namun bila ini sengaja dirancang, maka si empunya toko ini memang punya strategi marketing yang cukup "licik"...hehe. Karena dengan kebiasaan si artis yang hobi selfie, ada peluang produknya akan terpampang sekaligus diperagakan di akun si artis.
Sudah bisa kita tebak kemana arahnya. Jika artis tersebut pada akhirnya ber selfie dan memposting fotonya dengan hadiah baju/perhiasan tadi maka akan jadi sarana endorse murah bagi pemilik toko. Namun apabila si artis ternyata tidak mempublikasikan, maka si pemilik toko hanya rugi beberapa ratus ribu. Hehe...cerdas bukan??
Ceritanya, ada akun sebuah toko yang berkomentar di sebuah foto selebritis. Kebetulan si artis memang masih muda, tengah naik daun dan dikenal hobi poto selfie. Ia mempersilahkan pada artis tersebut untuk memilih barang apapun dari tokonya,,,apapun yang ia suka,,,gratis! Katanya, pemberian ini atas dasar penghargaan pada talenta dan karya yang telah di hasilkan oleh artis teresebut.
Seandainya ini kebetulan, tidak ada yang spesial di sini. Namun bila ini sengaja dirancang, maka si empunya toko ini memang punya strategi marketing yang cukup "licik"...hehe. Karena dengan kebiasaan si artis yang hobi selfie, ada peluang produknya akan terpampang sekaligus diperagakan di akun si artis.
Sudah bisa kita tebak kemana arahnya. Jika artis tersebut pada akhirnya ber selfie dan memposting fotonya dengan hadiah baju/perhiasan tadi maka akan jadi sarana endorse murah bagi pemilik toko. Namun apabila si artis ternyata tidak mempublikasikan, maka si pemilik toko hanya rugi beberapa ratus ribu. Hehe...cerdas bukan??
Fesbuk lokal....copycat. Kenapa?
Jauh sebelum tulisan ini saya ketik, saya beberapa kali berjumpa dengan medsos-medsos bikinan lokal yang tampilannya sengaja di buat mirip-mirip facebook. Begitu juga dengan fitur-fiturnya. Bedanya cuma tipis, ada penambahan beberapa fitur saja. Secara umum, cuma seperti fesbuk kreasi lokal. Kenapa mereka ingin sekali 'menjadi' facebook?
Yang buat saya heran adalah, pertama menuliskan kode-kode website bukanlah hal yang mudah sekalipun dia profesional setidaknya akan menyita banyak waktu dan tenaga. Kedua, posisi facebook di pasar medsos adalah peringkat pertama, yang bahkan googleplus pun tak mampu menyaingi, jadi kenapa mereka para progammer itu membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya untuk bersaing dengan facebook. Terlebih cara bersaing mereka yang cenderung memfotokopi produk lawan.
Jurus fotokopi dalam persaingan bisnis, hanya bisa berhasil manakala produk yang difotokopi adalah produk yang tidak gratisan. Kompetitor memfotokopi produk lawan yang laris, lalu dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Dengan demikian barang tiruan ini mempunyai nilai tambah, yakni harga murah.
Nah, masalahnya jika produk lawan sudah gratis lalu kenapa masih ada yang berpikir akan sukses dengan strategi gratisan? Oh tunggu, saya baru ingat ternyata medsos fotokopi itu punya slogan 'karya anak bangsa' . . . astaga, apakah konsumen bisa diambil hatinya hanya dengan slogan demikian. Justru bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. ketika sebuah produk itu dikenal sebagai produk negara maju ia akan semakin laris.
Entah apakah para kreator medsos lokal ini orang yang iseng buang-buang waktu, atau memang orang-orang hebat yang kebetulan belum paham dunia marketing. Sekedar catatan kecil saja buat saya pribadi.
Yang buat saya heran adalah, pertama menuliskan kode-kode website bukanlah hal yang mudah sekalipun dia profesional setidaknya akan menyita banyak waktu dan tenaga. Kedua, posisi facebook di pasar medsos adalah peringkat pertama, yang bahkan googleplus pun tak mampu menyaingi, jadi kenapa mereka para progammer itu membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya untuk bersaing dengan facebook. Terlebih cara bersaing mereka yang cenderung memfotokopi produk lawan.
Jurus fotokopi dalam persaingan bisnis, hanya bisa berhasil manakala produk yang difotokopi adalah produk yang tidak gratisan. Kompetitor memfotokopi produk lawan yang laris, lalu dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Dengan demikian barang tiruan ini mempunyai nilai tambah, yakni harga murah.
Nah, masalahnya jika produk lawan sudah gratis lalu kenapa masih ada yang berpikir akan sukses dengan strategi gratisan? Oh tunggu, saya baru ingat ternyata medsos fotokopi itu punya slogan 'karya anak bangsa' . . . astaga, apakah konsumen bisa diambil hatinya hanya dengan slogan demikian. Justru bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. ketika sebuah produk itu dikenal sebagai produk negara maju ia akan semakin laris.
Entah apakah para kreator medsos lokal ini orang yang iseng buang-buang waktu, atau memang orang-orang hebat yang kebetulan belum paham dunia marketing. Sekedar catatan kecil saja buat saya pribadi.
Sabtu, 14 Juni 2014
Desainer Grafis, sungai bisnis seni terapan.
Jika dihitung setelah saya lulus dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMKN 11) Surabaya, tahun 2006 berarti saya tulis ini 8 tahun setelahnya. Selama delapan tahun ini masih tak juga saya mengerti dimana muara bisnis desain grafis ini atau berbagai bisnis jasa desain/artistik lainnya. Beberapa orang bilang jasa artistik lebih rendah (secara ekonomis) dari pelacuran, karena pelacuran masih ada 'fee' nya, sedangkan jasa desain bisa gratis kalau customer mencetak desainnya di tempat yang sama.
Beberapa biro desain disekitar saya, yang sudah belasan tahun bahkan salah satu di antaranya adalah langganan creative award tahunan, nyatanya tidak begitu berkembang. Tetap kecil, dan 'segitu-gitu' saja. Tanpa bermaksud merendahkan, tapi memang saya lihat sulit bukan main berkubang di kolam ini. Kolamnya tidak cepat tambah besar, tapi ikannya meledak populasinya, otomatis rebutan makanan dimana-mana.
Semua ini, dalam kacamata saya. Adalah lingkaran setan tak berujung.
Mahasiswa/pelajar desain grafis membuka jasa desain harga terjangkau, seiring larisnya produk harga pun ikut naik. Lambat laun, berkembanglah menjadi sebuah perusahaan. Karena sudah berbentuk perusahaan, layanan pun makin profesional dan begitu juga dengan harga jual. Ketika popularitas perusahaan ini di puncaknya, ia jadi trendsetter, kiblat para mahasiswa desain pemula. Semua orang berlomba menciptakan desain yang lebih bagus darinya.
Tinggal menunggu waktu hingga para mahasiswa ini akan membuka layanan desain grafis, yang relatif sama bagusnya namun mematok harga dibawah perusahaan tadi. Dan terjadilah siklus yang sama terus menerus, 'lingkaran setan' bisnis artistik.
Setiap tahun lahir biro-biro desain bernama 'aneh' dengan harapan dapat predikat kreatif, beda, dan sejenis itu. Semua pada akhirnya menawarkan jasa yang sama, dengan harga yang semakin miring.
Saya merasa, pada satu titik saya harus memikirkan cara bersaing dengan memberi nilai tambah yang inovatif. Bukan nilai tambah sekedar harga murah. Jika tidak, maka saya pun akan bernasib sama dengan perusahaan-perusahaan yang lebih senior. Semoga . . .
Beberapa biro desain disekitar saya, yang sudah belasan tahun bahkan salah satu di antaranya adalah langganan creative award tahunan, nyatanya tidak begitu berkembang. Tetap kecil, dan 'segitu-gitu' saja. Tanpa bermaksud merendahkan, tapi memang saya lihat sulit bukan main berkubang di kolam ini. Kolamnya tidak cepat tambah besar, tapi ikannya meledak populasinya, otomatis rebutan makanan dimana-mana.
Semua ini, dalam kacamata saya. Adalah lingkaran setan tak berujung.
Mahasiswa/pelajar desain grafis membuka jasa desain harga terjangkau, seiring larisnya produk harga pun ikut naik. Lambat laun, berkembanglah menjadi sebuah perusahaan. Karena sudah berbentuk perusahaan, layanan pun makin profesional dan begitu juga dengan harga jual. Ketika popularitas perusahaan ini di puncaknya, ia jadi trendsetter, kiblat para mahasiswa desain pemula. Semua orang berlomba menciptakan desain yang lebih bagus darinya.
Tinggal menunggu waktu hingga para mahasiswa ini akan membuka layanan desain grafis, yang relatif sama bagusnya namun mematok harga dibawah perusahaan tadi. Dan terjadilah siklus yang sama terus menerus, 'lingkaran setan' bisnis artistik.
Setiap tahun lahir biro-biro desain bernama 'aneh' dengan harapan dapat predikat kreatif, beda, dan sejenis itu. Semua pada akhirnya menawarkan jasa yang sama, dengan harga yang semakin miring.
Saya merasa, pada satu titik saya harus memikirkan cara bersaing dengan memberi nilai tambah yang inovatif. Bukan nilai tambah sekedar harga murah. Jika tidak, maka saya pun akan bernasib sama dengan perusahaan-perusahaan yang lebih senior. Semoga . . .
Langganan:
Postingan (Atom)